Cara Menghadapi Quarter Life Crisis

Luarsekolah

Oleh : Amatullah Asma Ashilah - Content Writer Luarsekolah

Photo by Noah Silliman on Unsplash


Sering mendengar istilah quarter life crisis? Istilah ini mungkin cukup populer dan relatable dengan kamu yang sekarang berada di usia 20 sampai 30-an.
Quarter life crisis atau yang biasa disebut QLC diartikan sebagai krisis yang terjadi saat memasuki usia seperempat abad.
Menurut Dr. Alex Fowke, seorang psikolog Inggris, QLC adalah sebuah fase ketika seseorang mengalami perasaan insecurity, keraguan dan kekecewaan seputar karier, hubungan, dan situasi keuangan.
Periode ini juga erat terjadi ketika seseorang sedang mencari jati diri dan dihadapkan dengan berbagai pilihan dalam hidupnya. Periode ini memang rentan membuat seseorang merasakan cemas, kesepian, bahkan depresi.
Tapi tak perlu takut! karena fase ini umum dialami oleh banyak orang. Justru fase ini adalah suatu kesempatan untuk lebih mengenali diri dan menyadarkan bahwa tidak ada yang abadi, termasuk krisis ini sendiri.
Supaya kamu tidak terlalu terlarut dalam krisis ini dan bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang berharga, ada baiknya untuk mengenali terlebih dahulu bagaimana fase-fasenya.


Fase Quarter Life Crisis

Menurut Dr. Oliver Robinson, seorang peneliti psikologi dari London, terdapat empat fase QLC, yaitu:

1. Locked-In
Fase ketika seseorang merasa terjebak dengan komitmen, situasi tidak nyaman, atau merasa ada nilai yang tidak sesuai dengannya, entah itu pekerjaan, hubungan, atau hal lain.

2. Separation and Time-Out
Fase ketika seseorang mempertimbangkan untuk keluar atau berubah dari situasi ini, serta membuat keputusan yang ingin diambil. Misal, apakah kamu akan mencoba yang benar-benar baru atau tetap di situasi yang lama dengan memperbaharui keadaan. Kamu mungkin saja merasa terisolasi dan kesepian pada fase ini.

3. Exploration
Fase ketika seseorang melakukan refleksi, mempertimbangkan pilihan-pilihan yang tersedia, pilihan apa yang dimiliki sumber dayanya, atau pilihan apa yang lebih sesuai dengan nilai yang dipegang.

4. Developing a New Commitment
Fase ketika individu akhirnya menentukan atau mengukuhkan pilihan dengan motivasi, tujuan, dan nilai-nilai yang lebih jelas.


Cara Menghadapi Quarter Life Crisis

Usia dewasa memang tidak dapat dihindari, namun QLC dapat kita kelola agar tidak membebani diri. Kamu bisa mengikuti tiga langkah di bawah ini:

1. Menjadi “Detektif” Bagi Pikiranmu
Bayangkan ketika kamu ingin menuju ke suatu tempat, tetapi kamu tidak tahu di mana kamu berada, tentu akan sulit bagimu menentukan arah. Begitu juga ketika kamu mengalami QLC, kamu harus ‘kepo’ dengan berbagai perasaan dan pikiranmu. Hal ini penting agar kamu menjadi lebih sadar dengan keadaanmu saat ini.
Kamu bisa melakukannya dengan cara meluangkan beberapa menit dalam sehari untuk mengevaluasi apa yang membuatmu merasa senang, sedih, tertantang, atau frustrasi pada hari itu. Lakukan ini selama beberapa minggu ke depan dan temukan pola jenis aktivitas apa yang membuatmu bersemangat atau menguras energi, serta orang-orang yang membuatmu bahagia atau cemas.

2. Belajar Mengambil Keputusan
Setelah kamu melihat polanya, langkah selanjutnya adalah membuat beberapa keputusan. Seringkali kamu takut dan bingung dalam memutuskan, namun ada hal yang perlu kamu ingat; lihatlah peluangnya, bukan ketakutannya. Ketika merasa takut, kita cenderung tidak melakukan apa-apa (freeze), melarikan diri atau menghindar (flight), atau mencari berbagai kemungkinan (fight).
Ambillah keputusan dengan melihat kemungkinan, bukan rasa takut. Pikirkan tentang apa yang kamu inginkan dari hidup dan jenis karir yang kamu inginkan. Ketika kamu takut untuk memutuskan keluar dari pekerjaanmu sekarang, singkirkan rasa takut tersebut dan lihat potensi tentang perasaanmu jika kamu berada di pekerjaan yang kamu cintai.

3. Percaya pada Perasaan Tidak Nyaman
Membuat keputusan itu sulit, tetapi yang lebih sulit lagi adalah bertahan dengan keputusan itu, bahkan ketika segala sesuatunya mulai menjadi tidak nyaman. Setelah kamu membuat pilihan atau memilih jalan tertentu, kamu mungkin akan menemui pilihan lain yang membuatmu merasa ragu. Tapi, kamu harus belajar mempercayai perasaan tidak nyaman tersebut.
Ketidaknyamanan yang kamu rasakan terkait dengan pencarian atau perubahan identitas adalah bagian alami dari proses quarter life crisis. Kamu perlu untuk melatih self-compassion, yang artinya menghormati diri sendiri, menerima dirimu sebagai manusia, dan percaya bahwa kamu akan menemukan jalan yang tepat dalam hidupmu.

4. Memanfaatkan Sumber Daya yang Ada
Perubahan pilihan karier atau pilihan hidup bisa menjadi lebih mudah jika kamu juga memanfaatkan sumber daya atau teknologi yang ada. Misalnya, ketika kamu memutuskan menjadi pengusaha, kamu bisa menggunakan metode yang memudahkan kamu sebagai pelaku usaha dan konsumen. Berbagai teknologi seperti payment gateway dapat menjembatani pelaku usaha agar bisa menerima semua jenis metode pembayaran, baik itu e-money, kartu kredit, kartu debit, atau yang lainnya.
Cashlez adalah salah satu perusahaan pembayaran terkemuka di Indonesia dengan misi menyediakan solusi terbaik di bidangnya, menyediakan teknologi yang relevan, menyediakan layanan dan dukungan yang dapat diandalkan serta menyediakan produk yang aman dan mudah digunakan. Bisa dijadikan pilihan untuk membantumu menjalani perubahan kariermu!

Melalui proses quarter life crisis memang tidak mudah. Tetapi jika kamu berhasil melewatinya, proses ini akan membantumu menjadi pribadi yang lebih tangguh dan berkembang. Hal yang perlu kamu lakukan sekarang adalah menjalani kehidupan saat ini dengan sebaik-baiknya dan penuh syukur. Yuk, fokus melakukan apa yang kamu bisa dan tidak perlu bandingkan dirimu dengan orang lain.




Artikel Lain :
Hubungi Kami